Vagina Berdarah Setelah Seks Saat Hamil, Bahayakah?

Seks selama hamil dianggap aman dalam sebagian besar keadaan. Namun, setelah sesi bercinta yang penuh gairah dengan pasangan, normal untuk merasa panik begitu mengetahui bahwa Anda mengalami perdarahan.

Apakah ini berbahaya? Bagaimana dengan bayi Anda? Setiap kekhawatiran tentang perdarahan setelah berhubungan seks selama hamil akan dibahas lengkap dalam artikel ini.

Vagina Berdarah Setelah Seks Saat Hamil
Vagina Berdarah Setelah Seks Saat Hamil


Vagina berdarah selama hamil, apakah artinya keguguran?

Salah satu kekhawatiran utama yang berhubungan dengan perdarahan setelah berhubungan seks selama hamil adalah keguguran. Tapi, tak ada alasan untuk panik berlebihan.


Kemungkinan Anda mengalami keguguran setelah berhubungan seks selama kehamilan sangat kecil, dan risikonya bahkan cenderung hampir nol besar setelah usia kehamilan mencapai 12 minggu. Perdarahan vagina selama kehamilan bukan selalu berarti bayi Anda berada dalam bahaya. Bayi Anda nyaman dan aman terlindungi dalam kantung ketuban rahim, di atas vagina, sementara lendir menyegel rapat leher rahim. Jadi, buang jauh-jauh pikiran bahwa seks menyakiti bayi Anda.


Wajar untuk wanita hamil mengalami bercak darah ringan atau perdarahan sesekali setelah aktivitas seksual selama trimester kedua atau ketiga. Jika Anda memiliki riwayat keguguran dari kehamilan sebelumnya, dokter Anda mungkin telah menyarankan Anda untuk menunda hubungan seksual selama trimester pertama, hanya untuk berjaga-jaga.


Mengapa vagina berdarah setelah berhubungan seks selama hamil?

Selama kehamilan, tingkat dan volume pasokan darah ke saluran kelamin perempuan meningkat secara signifikan untuk memastikan asupan nutrisi yang optimal untuk perkembangan bayi melalui plasenta. Peningkatan suplai darah ini disebabkan oleh pembentukan banyak kelompok pembuluh darah halus untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang tinggi bagi ibu dan janin. Seks (termasuk di saat-saat ketika seks lebih bersemangat atau intens dari biasanya) menyebabkan pembuluh halus ini pecah akibat sejumlah besar tekanan yang diterima oleh leher rahim. Hasilnya, muncul bercak atau perdarahan ringan.


Perdarahan seperti ini umumnya tidak berbahaya. Anda bisa terus melanjutkan berhubungan seks selama kehamilan dengan meminta pasangan untuk lebih lembut di waktu berikutnya atau beralih ke posisi bercinta lain, misalnya spooning atau penetrasi dari belakang, untuk membantu mencegah timbul bercak. Bicarakan dengan pasangan Anda tentang preferensi dan kekhawatiran Anda.


Haruskah melaporkan ini ke dokter?

Anda tetap harus melaporkan kepada dokter mengenai setiap perdarahan vagina yang Anda alami di setiap tahap kehamilan agar lebih amannya, terutama jika diikuti oleh satu atau lebih dari gejala di bawah ini. Karena walau kemungkinan keguguran kecil, “perdarahan vagina setelah seks selama kehamilan dapat menandakan masalah lain, seperti plasenta yang terlepas dari rahim,” ungkap Laura Riley, MD, seorang spesialis kedokteran ibu dan janin di Rumah Sakit Umum Massachusetts, Boston, dilansir dari Parents.


  • Kram perut intens, nyeri parah di sekitar panggul dan perut bawah
  • Perdarahan vagina yang melimpah, terasa sakit maupun tidak
  • Produksi cairan vagina yang mengandung rontokan jaringan
  • Demam tinggi, lebih dari 38ÂșC dengan/tanpa gejala panas dingin (menggigil)
  • Timbul kontraksi rahim yang dipicu aktivitas seksual, namun tetap hadir bahkan setelah seks telah lama usai

Anda sebaiknya mengenakan pantyliner atau pembalut tipis jika perdarahan sering terjadi, sebagai cara untuk melacak berapa banyak perdarahan dan jenis darah (apakah merah tua, merah muda, atau cokelat; atau jika itu hanya berupa darah atau disertai gumpalan). Bawa sampel perdarahan ke dokter Anda untuk menjalani tes demi mendapatkan diagnosis tepat.

Comments